Terganggu oleh suara ayam berkokok, terpaan silau cahaya mentari yang
sudah seterang ini membuat aku malas untuk membuka kelopak mataku.
rasanya hari ini aku ingin bersantai saja di kamar, aku terlalu lelah.
tok.tok.tok...
ketukan itu merdu dan membuat aku terganggu kembali setelah berhasil menutup jendela dengan kain tebal agar tidak silau.
"Beni!...." teriak mama dari balik daun pintu.
"Apa ma? Beni ngantuk, lagi pula hari ini libur" jawabku setengah sebal karena di ganggu.
"Kamu punya baju tidak terpakai?" teriaknya lagi dari balik pintu,
sebenarnya mama tidak berteriak hanya saja aku yang terganggu merasa
bahwa wanita paruh baya itu berteriak di pinggir telingaku.
"Nanti
Beni bawa keluar" jawabku dengan malas sekali karena sudah terlanjur di
ganggu, aku menyerah dan bangun untuk memilih baju mana saja yang tidak
terpakai.
****
"Ini ma!, buat apa?" tanyaku penasaran sambil masih mengucek mataku.
"Bapak ini butuh baju bekas yang masih bagus, dia sudah berjanji pada
anaknya untuk memberikan kado ulang tahun baju bagus" jawab mama
menjelaskan.
"Kapan ulang tahunnya?" tanyaku lagi kepada mama,
sesekali aku melirik sosok bapak yang sudah lebih tua dari papa,
terlihat otot-ototnya seperti pekerja kasar. bapak ini ternyata tukang
kayu.
"Hari ini dek" jawab si bapak menjawab pertanyaanku.
"17 Agustus?" tanyaku memastikan.
"Iya, bapak berjanji memberikan kado baju bagus karena tadinya bapak
berharap bisa memenangkan lomba panjat pinang. ternyata anak-anak muda
lebih tangkas memanjat" jelasnya panjang lebar.
"Mengapa bapak tidak
jujur kepada anak bapak saja?" tantaku tambah penasaran. mama sudah
masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Bapak ingin membuat anak bapak bahagia dan bisa bersemangat" jawabnya dengan mantap.
lalu aku memberikan baju yang sudah dirapihkan dalam kardus kepadanya.
"Umur berapa anak bapak?" pertanyaan terakhirku.
"15 tahun, dia ingin baju baru saat lebaran, tapi bapak tidak bisa
memberikannya. makanya bapak menjanjikan pada hari ulang tahunnya"
tangan kekarnya menopang kardus dan menampakan luka robeknya.
"Bapak kenapa?"
"Tergores paku" jawabnya singkat, aku termenung menatap lukanya, itu bukan tergores tapi terobek. lukanya cukup dalam.
"Terimakasih dek!" ucapnya sambil memberikan senyum padaku. aku mengangguk.
****
"Mau kemana Ben?" tanya mama.
"Ikut lomba tujuh belasan" jawabku dengan semangat.
"Loh tumben?" sindir mama padaku, teringat aku paling malas bangun pagi saat sekolah libur.
"Aku pamit ma!" teriaku sambil dengan seenaknya berpamitan tanpa
bersalaman. bukan aku tak sopan, tapi karena aku terlalu bersemangat.
buktinya aku kembali lagi hanya untuk mencium punggung tangan mama, lalu
kemudian berlari riang menuju lapangan untuk lomba tujuh belasan.
****
Tiang itu mengkilat oleh pelumas yang sengaja diberikan agar tidak
mudah di panjat. diatasnya menggantung bermacam-macam benda yang akan
menjadi hadiah untuk siapapun yang berhasil mencapai puncaknya lebih
dahulu.
"Anak muda lebih pandai memanjat" aku teringat ucapan bapak yang datang ke rumah tahun lalu.
"Mau kita sumbangin kemana hadiahnya?" tanya Rizky pada semuanya, kami
membentuk tim untuk panjat pinang hanya sebagai partisipasi saja dalam
perayaan kemerdekaan. hadiahnya akan kami sumbangkan pada yang
membutuhkan.
"Yang penting untuk anak-anak bangsa yang membutuhkan" jawabku sekenanya.
"Kita anak muda Indonesia, perjuangan kita hanya semata sebagai usaha
untuk membantu yang membutuhkan bantuan" ucapku lagi memberikan
semangat. sempurna, dengan kostum telanjang dada aku dan temanku
berusaha mencapai puncak. dimana Indonesia membutuhkan anak muda penerus
bangsa yang mengerti arti perjuangan dan paham tentang arti
keperdulian...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar