Kaleng bekas itu berbunyi gaduh saat aku mencoba melampiaskan amarahku kepadanya.
"Kenapa dia begitu bodoh!" teriaku dengan geram. mengingat tentang bagian cerita yang juga ikut menyayat perasaanku, bukan karena aku sok peduli, hanya saja aku sangat peduli kepadanya.
"Seandainya aku diberikan kesempaatan, mungkin aku tidak akan membuatnya terluka seperti sekarang" gumamku kepada diri sendiri.
Buktinya gadis cantik itu harus menangis saat ini, aku tidak bisa melakukan apapun untuk membuatnya bisa kembali tersenyum. kata orang aku ini laki-laki pengecut, pantas saja Shela tak memilihku.
"Aku seharusnya melindungi orang yang aku sayang, sekarang apa yang bisa aku lakukan saat dia sudah kehilangan kehormatannya. bukankah laki-laki sejati harusnya bisa menjaga kehormatan wanita?" gerutuku lagi dalam hati, dibumbui dengan rasa penyesalan dan perasaan bersalah.
***
Sore itu aku tak berdaya untuk memaksakan keinginan hatiku, laki-laki yang katanya lebih tampan dariku sudah lebih dulu menyatakan isi hatinya. aku tak berani memperjuangkan hatiku untuk mendapatkan haknya dan hanya untuk sekedar mengungkapkannya. yang aku lakukan hanyalah berusaha menerima keadaan, aku merasa bahagia melihatnya tersenyum. tidak terfikir bahwa aku seharusnya berusaha.
"Aku sebenarnya mencintai kamu sejak dulu!" ucapnya sambil terisak. aku berusaha tegar mendengarkan apa yang ingin dia ungkapkan, polisi memberikan waktu sepuluh menit untuk Shela berbicara padaku.
"Mengapa kau melakukan hal ini?" jawabku sedikit emosi, aku menahannya agar tidak benar-benar emosi.
"Aku di paksa, dia bilang jika aku tidak melakukannya berarti aku tidak sayang padanya!" jawabnya parau, terdengar nada penyesalah dari mimik wajah gadis cantik yang dulu pernah aku cintai. sampai saat ini pun aku masih.
"Lalu kau melakukannya demi cinta?" cela ku lagi. aku mulai emosi karena api yang mungkin membuatku teringat akan setahun yang lalu, saat aku fikir laki-laki tampan itu bisa membuatnya bahagia.
" Aku mencintaimu, tapi aku tak kuasa menahan sifat biologisku" belamya lagi, gadis cantik yang berbicara denganku bukanlah korban pelecehan seksual, tapi tersangka pidana akibat sebuah dokumentasi pribadi yang tersebar dan didalamnya menayangkan bahwa gadis itu menjadi pemeran utamanya.
"Ayo saudari Shela untuk segera masuk kedalam sel" tegas suara seorang polisi berbadan tegap.
"Aku mencintai kamu!" ucapnya lirih, matanya polos, tapi kehormatannya sudah tercemar. apa aku harus menerimanya dalam kondisi seperti itu. aku kikuk tak menjawab, berkecimpung dalam imajinasiku, membayangkan bagaimana dengan kondisi perasaanku sebenarnya. ini juga salahku yang tidak dapat menjaganya.
***
"Kau seharusnya mengangkat kembali kehormatannya" bisik suara hatiku. emosiku memudar saat terbayang dalam imajinasiku tentang manisnya senyuman Shela.
Aku masih menyayanginya, terlampau dari kata itu aku ingin sekali membahagiakannya. mimpiku satu tahun silam untuk menytakan cinta belum terwujud, dan saat ini Shela mengakui bahwa dirinya mencintaiku, apakah karena gadis itu memanfaatkan aku atau mungkin itu tulus dari hatinya. aku tak bisa menuduhnya, terlepas dari perbuatan Shela, aku seharusnya bertanggung jawab untuk menjaga Shela. tapi aku sendiri yang gagal, maka memang seharusnya akulah yang harus mengembalikan kehormatannya.
"Aku akan menebus kesalahanku" gumamku sambil memungut kaleng bekas yang sudah berbentuk aneh, aku memvbuangnya ke tempat sampah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar