Sekeranjang gorengan yang biasa aku bawa ke kampus
untuk di jajahkan kepada teman-teman di kampus yang biasa kelaparan saat siang
hari karena jam istirahat yang tidak memungkinkan untuk mencari makan di luar.
Sedangkan di lingkungan kampus tidak ada penjual makanan apapun.
“Bro! gorengannya ngambil dimana?” ucap seorang
mahasiswa yang menjadi pelangganku.
“Ibu kost gue bisnis gorengan, gue ikut bantuin”
“Kreatif juga lo, tapi kalau gue sih malu jualan
kaya beginian” mahasiswa yang menurutku adalah anak orang kaya itu terkekeh
meledekku. Aku sudah terbiasa menerima ledekan para pelangganku, biasanya aku
hanya membalasnya dalam hati.
“Kalau gue kaga jualan mereka juga yang kelaparan”
jawabku dalam hati, sambil memberikan senyum keramahanku sebagai penjual.
Bukankah pembeli adalah raja.
Sebelum kejadian satu tahun yang lalu aku tidak
pernah terfikirkan untuk berdagang gorengan di kampus, orang tuaku sama sekali
jauh dari garis kemiskinan atau bisa dikatakan bahwa aku sangat berkecukupan.
Setahun yang lalu aku mengenal seorang penjual
gorengan, ibu tua yang sudah sangat renta. Setiap pagi aku selalu melihatnya di
depan gerbang masuk kampusku, itu rutin selama setahun kebelakang. Sampai suatu
waktu di kampusku menjadi ramai dengan berita yang sedikit tidak aku percaya.
“Ibu tukang gorengan itu dagangannya beracun!”
teriak seorang mahasiswi senior bernama Luna yang menjadi bintang kampus. Aku
tak mengerti mengapa dia bilang bahwa gorengan si ibu tua langgananku beracun,
yang aku tahu gorengan ibu tua itu sangat enak. Aku pelanggan setianya.
Tanpa fikir panjang para mahasiswa yang selalu
mengidolakan sang bintang kampus ikut membela dan beramai-ramai mengusir si ibu
tua. Aku berusaha membela tapi aku tidak memiliki masa untuk membela, aku hanya
sendiri membela si ibu tua.
“Ibu ini gorengannya enak, gue suka gorengannya!”
belaku saat puluhan mahasiswa lainnya merampas jualan si ibu tua dan
mengusirnya.
“Nggak apa-apa nak, ibu tidak akan berjualan lagi”
itu kalimat yang mengiang di telingaku sampai sekarang, terlalu tega mereka
anak-anak orang kaya yang berlebihan. Tidak berfikir bagaimana jika ibu tua itu
tidak berjualan lagi di depan gerbang kampus.
Sebulan berlalu sejak ibu tua penjual gorengan itu
di usir dari kampusku, sudah puluhan pedagang meracuni warga kampus. Ada yang
menjual cendol dengan pewarna pakaian dan boraks, menjual gorengan dengan
tepung yang diambil dari sisa ceceran di pasar dan ada yang menggunakan toge
busuk untuk isi gorengan tahu yang
mereka jual.
Puluhan pedagang itu di usir oleh pihak kampus
karena terbukti menambahkan bahan berbahaya dalam jajanannya. Seminggu setelah
pengusiran puluhan pedagang curang itu membuat pihak kampus memutuskan agar
tidak mengizinkan para pedagang untuk berjualan di sekitar kampus.
Kelaparanpun melanda para warga kampus.
“Pak, kalau pedagang dilarang berjualan kita
kelaparan!” protesku pada salah satu dosen.
“Ini sudah kebijakan yayasan, lagi pula masih ada
kantin yang tersedia” tukasnya menjawab protesku.
“Kantin hanya ada satu, itupun tidak mungkin semua
bisa kebagian waktu untuk mengantri” protesku lagi.
“Ini keputusan yayasan”
“Ada seorang penjual gorengan yang saya kenal,
jualannya bersih dan sempat berjualan di kampus ini selama saya sekolah disini”
“Ibu Siti yang kalian usir tempo hari?”
“Aku tidak ikut mengusirnya!” tukasku menjelaskan.
“Beliau meninggal pada hari itu juga, saat pulang
dari kampus beliau mencari tempat berjualan baru. Hanya saja tubuhnya yang
renta tidak mampu melawan preman pasar yang merampasnya” jelas pak Bowo dengan
panjang lebar, aku sedikit menyesal karena saat itu aku yang satu-satunya bisa
membela ibu Siti yang baru saja aku ketahui namanya dari pak Bowo.
“Inalillahi”
Sejak saat itu aku mulai berfikir bagaimana jalan
keluar untuk mengatasi masalah kelaparan di kampusku, seandainya saja ibu Siti
masih berjualan mungkin aku tidak akan pernah membawa keranjang gorengan setiap
pagi.
Aku menjual gorengan sampai aku akhirnya lulus,
kemudian karena aku sudah lulus maka bisnis berjualan di kampus menjadi turun
temurun kepada anak-anak rajin di angkatan berikutnya. Seandainya tidak ada
yang menggantikanku maka tragedi kelaparan itu akan terulang kembali.
Kebiasaanku tetap berlanjut sampai pada masa
kerjaku, teman-teman kantor menjadi lebih berhemat untuk uang makan karena aku
menjual gorengan dengan harga terjangkau. Aku tidak pernah melupakan ibu tua
penjual gorengan yang menjadi langgananku di kampus. Mungkin sederhana yang
dilakukannya, tapi ketika ibu tua itu pergi membuat kehidupan kampus dan
kehidupanku berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar