Selasa, 26 Agustus 2014

Ibu Tua Penjual Gorengan


Sekeranjang gorengan yang biasa aku bawa ke kampus untuk di jajahkan kepada teman-teman di kampus yang biasa kelaparan saat siang hari karena jam istirahat yang tidak memungkinkan untuk mencari makan di luar. Sedangkan di lingkungan kampus tidak ada penjual makanan apapun.
“Bro! gorengannya ngambil dimana?” ucap seorang mahasiswa yang menjadi pelangganku.
“Ibu kost gue bisnis gorengan, gue ikut bantuin”
“Kreatif juga lo, tapi kalau gue sih malu jualan kaya beginian” mahasiswa yang menurutku adalah anak orang kaya itu terkekeh meledekku. Aku sudah terbiasa menerima ledekan para pelangganku, biasanya aku hanya membalasnya dalam hati.
“Kalau gue kaga jualan mereka juga yang kelaparan” jawabku dalam hati, sambil memberikan senyum keramahanku sebagai penjual. Bukankah pembeli adalah raja.
Sebelum kejadian satu tahun yang lalu aku tidak pernah terfikirkan untuk berdagang gorengan di kampus, orang tuaku sama sekali jauh dari garis kemiskinan atau bisa dikatakan bahwa aku sangat berkecukupan.
Setahun yang lalu aku mengenal seorang penjual gorengan, ibu tua yang sudah sangat renta. Setiap pagi aku selalu melihatnya di depan gerbang masuk kampusku, itu rutin selama setahun kebelakang. Sampai suatu waktu di kampusku menjadi ramai dengan berita yang sedikit tidak aku percaya.
“Ibu tukang gorengan itu dagangannya beracun!” teriak seorang mahasiswi senior bernama Luna yang menjadi bintang kampus. Aku tak mengerti mengapa dia bilang bahwa gorengan si ibu tua langgananku beracun, yang aku tahu gorengan ibu tua itu sangat enak. Aku pelanggan setianya.
Tanpa fikir panjang para mahasiswa yang selalu mengidolakan sang bintang kampus ikut membela dan beramai-ramai mengusir si ibu tua. Aku berusaha membela tapi aku tidak memiliki masa untuk membela, aku hanya sendiri membela si ibu tua.
“Ibu ini gorengannya enak, gue suka gorengannya!” belaku saat puluhan mahasiswa lainnya merampas jualan si ibu tua dan mengusirnya.
“Nggak apa-apa nak, ibu tidak akan berjualan lagi” itu kalimat yang mengiang di telingaku sampai sekarang, terlalu tega mereka anak-anak orang kaya yang berlebihan. Tidak berfikir bagaimana jika ibu tua itu tidak berjualan lagi di depan gerbang kampus.
Sebulan berlalu sejak ibu tua penjual gorengan itu di usir dari kampusku, sudah puluhan pedagang meracuni warga kampus. Ada yang menjual cendol dengan pewarna pakaian dan boraks, menjual gorengan dengan tepung yang diambil dari sisa ceceran di pasar dan ada yang menggunakan toge busuk untuk isi gorengan tahu yang mereka jual.
Puluhan pedagang itu di usir oleh pihak kampus karena terbukti menambahkan bahan berbahaya dalam jajanannya. Seminggu setelah pengusiran puluhan pedagang curang itu membuat pihak kampus memutuskan agar tidak mengizinkan para pedagang untuk berjualan di sekitar kampus.
Kelaparanpun melanda para warga kampus.
“Pak, kalau pedagang dilarang berjualan kita kelaparan!” protesku pada salah satu dosen.
“Ini sudah kebijakan yayasan, lagi pula masih ada kantin yang tersedia” tukasnya menjawab protesku.
“Kantin hanya ada satu, itupun tidak mungkin semua bisa kebagian waktu untuk mengantri” protesku lagi.
“Ini keputusan yayasan”
“Ada seorang penjual gorengan yang saya kenal, jualannya bersih dan sempat berjualan di kampus ini selama saya sekolah disini”
“Ibu Siti yang kalian usir tempo hari?”
“Aku tidak ikut mengusirnya!” tukasku menjelaskan.
“Beliau meninggal pada hari itu juga, saat pulang dari kampus beliau mencari tempat berjualan baru. Hanya saja tubuhnya yang renta tidak mampu melawan preman pasar yang merampasnya” jelas pak Bowo dengan panjang lebar, aku sedikit menyesal karena saat itu aku yang satu-satunya bisa membela ibu Siti yang baru saja aku ketahui namanya dari pak Bowo.
“Inalillahi”
Sejak saat itu aku mulai berfikir bagaimana jalan keluar untuk mengatasi masalah kelaparan di kampusku, seandainya saja ibu Siti masih berjualan mungkin aku tidak akan pernah membawa keranjang gorengan setiap pagi.
Aku menjual gorengan sampai aku akhirnya lulus, kemudian karena aku sudah lulus maka bisnis berjualan di kampus menjadi turun temurun kepada anak-anak rajin di angkatan berikutnya. Seandainya tidak ada yang menggantikanku maka tragedi kelaparan itu akan terulang kembali.
Kebiasaanku tetap berlanjut sampai pada masa kerjaku, teman-teman kantor menjadi lebih berhemat untuk uang makan karena aku menjual gorengan dengan harga terjangkau. Aku tidak pernah melupakan ibu tua penjual gorengan yang menjadi langgananku di kampus. Mungkin sederhana yang dilakukannya, tapi ketika ibu tua itu pergi membuat kehidupan kampus dan kehidupanku berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar